Di kamar sunyi, Aku terdiam sepi sendiri. Diriku kini terbaring lesu seumpama keledai yang tak mampu memuaskan dahaganya kemudian terkapar kaku padahal air begitu dekat adanya. Sebenarnya Aku sudah begitu lelah berkata-kata, tapi mengapa hati masih saja ingin terus bercerita tentang rasa yang kini tengah melanda.
Malam telah menyelimuti ketika kudengar hati ini melagukan simfoni nada-nada cinta penuh kerinduan itu. Dingin terasa tubuhku dalam dekapannya dan bergemataran rasa hatiku dibuatnya. Tangan-tangan sepinya malam merangkulku erat-erat kemudian melemparku dalam keterasingan. Kudengar jelas bisikan sunyi tanpa suara yang kian menggemakan namamu di sudut ruang hatiku. Semua ini terasa semakin menambah gundah hatiku saja.
Laksana perahu yang terombang-ambing di luasnya samudera, perumpamaan untuk cinta yang kini kurasa. Aku bagai nahkoda yang tak lagi mampu mengendalikan perahunya dalam ganasnya badai di samudera luas. Aku bahkan tak mampu lagi mengingat sudah berapa kali Aku harus terhempas kemudian tenggelam dalam gelapnya samudera cinta seperti ini.
Mengapa Aku harus kembali mengulang perjalanan menyusuri gua-gua gelap dan sempit di kedalaman samudera hatimu?? Padahal kutahu takkan pernah kutemukan sesuatu yang kucari di sana. Sungguh…Aku sekarang butuh cintamu laksana ikan yang tak lagi mampu bernafas tanpa air di kehidupan.
Aku sekarang kembali resah. Jiwaku kini seakan terbelenggu rantai kehidupan dan terkurung dalam penjara masa lalu yang menyakitkan. Aku tak mampu lagi berjalan bahkan untuk berdiri saja aku perlu dipapah. Bagaimana Aku mengejar mimpi-mimpi jika Aku terus terbelenggu seperti ini?? Aku seperti pelaut yang kini tersesat di luasnya samudera, samudera cintaku sendiri. Aku tak tahu arah kemana Aku harus pergi melabuhkan perahu cinta ini. Akankah Aku harus menyerah kemudian pasrah akan takdir seperti daun yang tak lagi mampu mengikatkan dirinya pada ranting-ranting yang slama ini telah memberinya kekuatan?? Ataukah seperti air yang mengalir begitu saja, menyusuri bukit-bukit terjal tanpa lelah dan putus asa sambil membawa dengan senang hati sampah-sampah kehidupan, memberi kesejukan dan kesegaran dalam setiap jejak langkahnya kemudian menghilang tanpa bekas menyatu di kedalaman samudera??
Jember, Nov '07