Ketika Kumenari bersama malam di altar penuh Cinta
Teriringi para malaikat cinta
Engkau serasa hadir
Membiusku dengan senyum manismu
Sungguh...hadirmu begitu nyata
Seumpama purnama dikegelapan malam
bersolek bersama bintang-bintang
Untuk sesaat...malaikat Cintamu hadir
Memakaikannku sayap-sayap kerinduan
Engkau mengajakku terbang
mengarungi luasnya samudera angan
Menyusuri bukit-bukit penuh harapan
melintasi jagad kata penuh makna
Di tengah perjalanan...
Aku berhenti sejenak
Menanyakan pada hatiku,
"Apakah sebenarnya yang ingin kau cari sekarang??"
"Sumber cahaya.....Sumber cahaya cinta yang slama ini memberiku kekuatan tuk jalani kehidupan",jawabku.
Jumat, 30 November 2007
Mencari Sumber Cahaya
Diposting oleh Rifki di 06.59 0 komentar
Label: Puisi
Kamis, 29 November 2007
Menyapamu dalam Mimpi
Entah sudah berapa lama
aku tak menyapanya lagi.
Rindu di hati membuat hari-hari yang kulalui
terasa smakin lamban saja berlalu.
Malam-malam pun masih tetap seperti dulu.
Slalu setia menemani,
bersama-sama menyemai mimpi dalam angan.
Mimpi yang masih sama
seperti tujuh tahun yang lalu.
Diposting oleh Rifki di 21.38 0 komentar
Label: Puisi
Ketika Masa Lalu Kembali Hadir
Di kamar sunyi, Aku terdiam sepi sendiri. Diriku kini terbaring lesu seumpama keledai yang tak mampu memuaskan dahaganya kemudian terkapar kaku padahal air begitu dekat adanya. Sebenarnya Aku sudah begitu lelah berkata-kata, tapi mengapa hati masih saja ingin terus bercerita tentang rasa yang kini tengah melanda.
Malam telah menyelimuti ketika kudengar hati ini melagukan simfoni nada-nada cinta penuh kerinduan itu. Dingin terasa tubuhku dalam dekapannya dan bergemataran rasa hatiku dibuatnya. Tangan-tangan sepinya malam merangkulku erat-erat kemudian melemparku dalam keterasingan. Kudengar jelas bisikan sunyi tanpa suara yang kian menggemakan namamu di sudut ruang hatiku. Semua ini terasa semakin menambah gundah hatiku saja.
Laksana perahu yang terombang-ambing di luasnya samudera, perumpamaan untuk cinta yang kini kurasa. Aku bagai nahkoda yang tak lagi mampu mengendalikan perahunya dalam ganasnya badai di samudera luas. Aku bahkan tak mampu lagi mengingat sudah berapa kali Aku harus terhempas kemudian tenggelam dalam gelapnya samudera cinta seperti ini.
Mengapa Aku harus kembali mengulang perjalanan menyusuri gua-gua gelap dan sempit di kedalaman samudera hatimu?? Padahal kutahu takkan pernah kutemukan sesuatu yang kucari di sana. Sungguh…Aku sekarang butuh cintamu laksana ikan yang tak lagi mampu bernafas tanpa air di kehidupan.
Aku sekarang kembali resah. Jiwaku kini seakan terbelenggu rantai kehidupan dan terkurung dalam penjara masa lalu yang menyakitkan. Aku tak mampu lagi berjalan bahkan untuk berdiri saja aku perlu dipapah. Bagaimana Aku mengejar mimpi-mimpi jika Aku terus terbelenggu seperti ini?? Aku seperti pelaut yang kini tersesat di luasnya samudera, samudera cintaku sendiri. Aku tak tahu arah kemana Aku harus pergi melabuhkan perahu cinta ini. Akankah Aku harus menyerah kemudian pasrah akan takdir seperti daun yang tak lagi mampu mengikatkan dirinya pada ranting-ranting yang slama ini telah memberinya kekuatan?? Ataukah seperti air yang mengalir begitu saja, menyusuri bukit-bukit terjal tanpa lelah dan putus asa sambil membawa dengan senang hati sampah-sampah kehidupan, memberi kesejukan dan kesegaran dalam setiap jejak langkahnya kemudian menghilang tanpa bekas menyatu di kedalaman samudera??
Jember, Nov '07
Diposting oleh Rifki di 21.38 0 komentar
Rabu, 28 November 2007
Aku Tak Peduli
Rembulan begitu asyk bercanda bersama bintang-bintang.Ia melupakanku padahal Aku di sini begitu setia menunggunya seharian.Sekarang...Aku tak peduli,entah apa yang kan terjadi esok.Karena apa yang kutunggu,kini atau esok hasilnya akan sama saja.
Diposting oleh Rifki di 00.56 0 komentar
Sapa ini Untukmu
Malam telah tiba...Burung-burung kerinduan kini kembali ke sarang cintanya.Pulang membawa beribu biji kenangan yang kini tumbuh subur di taman hatiku,bersemi bersama bunga-bunga cinta.Insan hati yang terluka ingin terus menyapa...Apa kabarmu,Cinta??....
Diposting oleh Rifki di 00.53 0 komentar
Aku Akan Terus Tersenyum Untukmu
Memang....Aku ingin sekali menerima bahwa ini semua sudah menjadi takdirku. Janganlah Kau peduli padaku. Tak apa,Aku tak akan pernah membencimu. Sekalipun Kau taburkan garam di atas luka-luka yang menganga dihatiku. Sekalipun Kau sayat-sayat hatiku dalam-dalam. Aku hanya akan bersabar dan Aku akan terus tersenyum bersama cinta yang kini semakin subur saja bersemi dihatiku...
Diposting oleh Rifki di 00.44 0 komentar
Pecinta Patah Hati
Cintaku...biarlah ini semua menjadi ceritaku sendiri. Semua kan kusimpan rapi dalam hati. Aku akan sembunyikan itu dalam ruang rahasia hatiku. Kuingin orang lain tak tahu bahwa Aku sebenarnya seorang pecinta yang sedang patah hati...
Diposting oleh Rifki di 00.40 0 komentar
Cinta dan Harap
Wahai Bidadari...mengapa Kau tak pernah mencoba menyapaku terlebih dahulu. Aku tak pernah mengerti apa yang Kau inginkan dariku. Apakah hanya harap yang ingin slalu kau beri padaku??. Sungguh...jika itu maksudmu,Aku tak butuh semua itu. Aku di sini hanya ingin mencintaimu tanpa harap balasmu. Karena kuyakin Kau takkan pernah lakukan itu.
Diposting oleh Rifki di 00.35 0 komentar
Senyummu
Wahai Bidadari...Sebelum Kau lelap dalam tidurmu,berikanlah secuil senyuman untukku agar Aku mampu lewati malam-malam sepiku.Demi esok,demi hidupku.
Diposting oleh Rifki di 00.29 0 komentar
Do'a Untukmu
Aku sekarang merasakan,ternyata hati tak bisa dibohongi. Jujur...Aku terlalu rindu ingin menyapamu slalu. Akankah Kau kan balas sapaku ini?? Ah,sudahlah. Tak apalah. Hanya harapku, semoga Kau di sana saat ini baik-baik saja. Amin3x
Diposting oleh Rifki di 00.26 0 komentar
Minggu, 11 November 2007
Waktu Pagi
Kuhirup udara pagi yang begitu segar,
sambil kurasakan sejuknya embun dipagi ini.
Mentari yang mulai bersinar
kembali memelukku dalam kehangatan.
Kupu-kupu mulai kembali mengepakkan
sayap-sayap cintanya.
Terbang membawa pesan kehidupan.
untukmu, smoga sukses slalu...
Diposting oleh Rifki di 10.00 0 komentar
Sabtu, 10 November 2007
Puisi 34
Entah...Jika kau tanyakan aku,
“Mengapa kau begitu mengagumiku,
Padahal aku pernah sakitimu, pernah tak pedulikanmu ?”…
Entah…Apa jawabku.
Aku tak tahu juga apa yang kulihat darimu,
Sehingga aku menjadi seperti ini.
Yang pasti…
Engkaulah cinta pertamaku.
Siapakah yang mampu melupakan cinta pertamanya ???
Kuharap engkau tak marah padaku.
Atas semua yang telah kuungkapkan padamu.
Diposting oleh Rifki di 21.59 0 komentar
Puisi 33
Dengan tingkahmu…
Kau terkadang membuatku tersenyum seorang diri,
Terkadang juga membuatku gelisah sepanjang hari.
Aku sadar bahwa tiada arti diriku dimatamu.
Karena itu aku tak berharap banyak darimu.
Aku hanya bisa mengagumimu
Tanpa peduli kau balas mengagumiku ataukah tidak.
Aku juga tak tahu
Sampai kapan kekaguman itu kan berakhir.
Ataukah memang takkan pernah berakhir
Untuk selamanya…
Diposting oleh Rifki di 21.00 0 komentar
Puisi 32
Kurasakn air mata meneduhi kelopak mataku…,membiarkannya mengalir…, menghempas kesenduan yang menyeruak di jiwa. Akankah ia terus mengalir sementara hati ingin segera menyudahinya??? Ah, sebuah romantisme kembali hadir…,walau pada dasarnya tak inginku menghadirkannya. Lalu salahkah aku ketika rasa itu hadir tanpa kehendakku??? Aku tak bisa memperkiraknnya. Juga tak bisa menduga atau menerka. Hanya meraba biasnya dalam kesyahduan hati yang tak pernah berujung. Saat ini, kuhanya melihat dari apa yang terlihat dan tak ingin kuulangi kembali kebiasaan-kebiasaanku yang suka menyurat apa ang tersirat. Inikah cinta yang kembali lahir dari hati yang pernah luka??? Entahlah. Jika ini memang benar adanya, akankah KAU menyadari bahwa ada sebuah rasa yang telah dihadirkan oleh alam semesta di dalam lubuk rasaku ini ??? (hasil jiblakan)
Diposting oleh Rifki di 20.59 0 komentar
Puisi 31
Hujan di luar sana tak henti-hentinya
melagukan simpfoni nada-nada penuh kerinduan.
Aku di sini…
Di kamar sepi sendiri.
Ku ingin terus menyapamu dengan do’a dalam malam-malam sepi.
Walau ku tahu bahwa ku takkan pernah dapat balas sapamu.
Diposting oleh Rifki di 20.58 0 komentar
Puisi 30
Di sini...
Hujan baru saja turun.
Seolah ikut menangis karena mengerti kesedihanku.
Sebenarnya aku tak ingin dunia tahu,
Kemudian mereka menangisiku
Atau menaruh kasihan padaku.
Aku tak ingin...
Aku hanya ingin berdiri tegar
Walau takkan pernah ku setegar batu karang di lautan.
Ku hanya berharap…
DIA mengerti dan menghargai
Apa yang kurasakan sedari dulu.
Entah hari ini juga ataukah esok.
Aku disini kan terus menunggu
Tanpa terhitung waktu….
Diposting oleh Rifki di 20.57 0 komentar
Puisi 29
Kau bertanya padaku, “ Siapa DIA ?”.
Biar ku jawab.
DIA yang membuatku menjadi pujangga kata.
Mengubah malam-malamku menjadi kerinduan.
DIA yang terlalu sempurna untukku.
Karena itu ku hanya bisa mengaguminya….
Entah sampai kapan ?!
Ataukah takkan berakhir tuk selamanya….
Diposting oleh Rifki di 20.56 0 komentar
Puisi 28
Aku tak mengerti…,
Akan rasa yang berkecamuk dikedalaman palung hatiku.
DIA serasa terus mengusik anganku.
DIA slalu hadir dalam setiap mimpiku.
Walau kutahu takkan pernah ada celah untukku dihatinya.
Tapi mengapa hingga kini…
Aku masih terus mengaguminya seperti ini???
Diposting oleh Rifki di 20.55 0 komentar
Puisi 27
Aku di sini ingin tertawa.
Menertawakan keluguanku sendiri.
Mengapa aku seperti ini ???.
Kau juga boleh menertawaiku.
Aku sekarang ingin ditertawai.
Tertawalah wahai dunia!!!
Tertawailah diriku.
Siapa tahu dengan begitu
Aku bisa berubah.
Diposting oleh Rifki di 20.54 0 komentar
Puisi 26
Ku sapa malammu dengan do’a dan senyuman.
Ku ingin menghiburmu bersama malaikat surga
yang slalu mengiringi setiap langkahmu.
Ku ingin diriku seperti bintang
yang cahayanya selalu menghiasi malammu
dengan keindahan…
Diposting oleh Rifki di 20.53 0 komentar
Jumat, 09 November 2007
Puisi 25
Burung-burung bernyanyi riang menyambut pagi.
Terbang mengangkasa bersama angin yang bertiup manja.
Bercanda bersama dalam dekapan mentari yang begitu hangat.
Mereka bersemangat mengejar mimpinya.
Terus...bagaimanakah dengan dirimu ???.
Diposting oleh Rifki di 21.56 0 komentar
Puisi 24
Malaikat…
Sepertinya aku tak sanggup lagi terbang.
Sang bidadari tak peduli kedatanganku.
Aku lelah sekarang.
Aku ingin istirahat sebentar.
Entahlah…hatiku sedang gundah sekarang.
Malaikat….
Katakan padanya, “esok pagi, kau ku tunggu sapanya”.
Diposting oleh Rifki di 21.55 0 komentar
Puisi 23
Wahai malaikat….
Pinjami aku sayapmu.
Kan ku hampiri sang bidadari,
Yang kini tengah terdiam di sudut hatiku.
Ku ingin sekali menyapanya
Terlebih melihat senyum di bibir manisnya.
Diposting oleh Rifki di 21.54 0 komentar
Puisi 22
Malaikat bersayap datang menemuiku.
Membisiku dengan kerinduan yang tak pernah berujung.
Entah sampai kapan….
Aku harus tenggelam seperti ini.
Tenggelam dalam masa lalu yang terus menghampiri
Disepanjang hari-hari dihidupku.
Diposting oleh Rifki di 21.53 0 komentar
Puisi 21
Aku terlalu lugu.
Sepanjang hari-hariku hanya kugunakan tuk mengejar mimpi.
Yang bisa dibilang terlalu sempurna untuk orang seperti diriku.
Hujan gerimispun barusan berhenti,
Seakan tuk sekedar menertawaiku.
Karena aku berbuat seperti itu.
Diposting oleh Rifki di 21.50 0 komentar
Puisi 20
Perasaanku membuat aku selalu gundah.
Risau dengan semua kenyataan.
Berlari mengejar sebuah mimpi.
Mimpi yang takkan pernah mungkin aku meraihnya.
Kuingin terus berjuang,
Walau ku sebenarnya tahu
akhir dari perjuanganku ini…
Diposting oleh Rifki di 21.49 0 komentar
Puisi 19
Wahai sang bidadari…
Berjumpa denganmu walau hanya sekali,
sudah cukup membuatku merindukanmu
disepanjang sisa-sisa hari dihidupku.
Hingga terkadang…
Hilang sadarku dalam lamunan
Karena hadirmu serasa begitu nyata
dalam samudera anganku.
Diposting oleh Rifki di 21.48 0 komentar
Kamis, 08 November 2007
Puisi 18
Aku memang larut dalam bening matamu,
Yang menyisakan risau-risaumu.
Ku balikkan tubuhku ketika kuhirup sosokmu.
Apa yang kutemukan lagi dirimba bening matamu
Menggugah rinduku akan hadirmu dalam pelukku.
Memang ada yang menganga ketika jarak matamu tak henti-hentinya
mengintaiku dari balik waktumu.
Selamat tidur wahai Bidadari surga
Mimpi indah….
Diposting oleh Rifki di 21.53 0 komentar
Puisi 17
Senja telah tiba.
Burung-burung kerinduan kembali kesarang cintanya.
Insan hati yang terluka ingin terus menyapa,
Apa kabarmu …Cinta ?.
Diposting oleh Rifki di 21.50 0 komentar
Puisi 16
Saat ini…
Mentari kembali menyapa bumi.
Smoga cahaya kehangatannya,
memberimu semangat dalam menjalani hidup.
Menggapai mimpi-mimpi yang semalam kamu rajut dalam angan.
Untukmu...,Met kerja dan sukses slalu.
Diposting oleh Rifki di 21.40 0 komentar
Puisi 15
Di saat kupu-kupu terlelap dalam tidurnya,
Dan kunang-kunang menyinari malam.
Semoga para malaikat surga slalu menjagamu,
Agar tetap hangat selagi kamu tertidur lelap di malam indah ini.
Met bobok, moga mimpi indah.
Diposting oleh Rifki di 21.35 0 komentar
Puisi 14
Dalam keadaan apapun,
Kau memang tetap cantik.
Ku jadi teringat dulu…
Ku lihat kau disudut jalan.
Cantik,
Wajahmu berseri.
Peluh mengalir perlahan di dahimu.
Dengan tersipu malu kau katakana padaku…..
“nyuwun sadokahe”
He…he.. ma’af bercanda.
Diposting oleh Rifki di 21.30 0 komentar
Puisi 13
Angin malam menghampiriku.
Menawari dengan tulus.
“Adakah salam yang ingin kau sampaikan tuk sang Bidadari ?”, tanyanya.
“Ya, sampaikanlah kalau aku sekarang sedang menunggu kabarnya.”, jawabku.
Diposting oleh Rifki di 21.25 0 komentar
Puisi 12
Pagi ini…
Sang mentari ingin cepat tiba dipuncak,
di timur jauh sana.
Dengan susah sungguh ia mendaki perlahan.
Mengintipmu dari balik celah bukit kerinduan,
ingin menyapamu dengan cahaya kehangatan cintanya.
Sungguh ia tulus dengan semua itu.
Sebab ia begitu mengagumimu.
Semoga hari-harimu menyenangkan
dan semua harapanmu tercapai….do’anya.
Diposting oleh Rifki di 21.20 0 komentar
Rabu, 07 November 2007
Puisi 11
Sakit hati ini menunggumu hanya terdiam tanpa peduli.
Ku coba menyapamu, tapi kau acuhkan aku begitu saja.
Kusadar aku bukanlah siapa-siapa dihidupmu.
Dan takkan pernah aku menjadi sesuatu yang berarti.
Aku ini laksana bintang
Slalu setia ingin menemani sang bulan
Padahal ia tahu bahwa sang bulan sedang menanti sang mentari.
Diposting oleh Rifki di 21.50 0 komentar
Puisi 10
Adakah kalimat yang mampu menarik perhatianmu ?
Jika ada..,tolong kau beritahu aku.
Jangan kau diam dan acuhkanku seperti ini.
Setidaknya ada alas an mengapa kau berbuat seperti ini.
Tak pantaskah aku jadi sahabatmu ???...
Diposting oleh Rifki di 21.50 0 komentar
Puisi 9
Sungguh kuakui…,
Kau nampak cantik malam itu.
Rasa berkecamuk dihatiku.
Antara terpesona dan malu
Karena aku berada begitu dekat di sampingmu
Hingga akupun jadi terdiam
Padahal hasrat hati ingin terus ku menyapamu.
Tahukah kau mengapa aku jadi begitu ?
Itu semua karena pesona wajah ayumu
Telah meruntuhkan segenap keberanianku.
Diposting oleh Rifki di 21.49 0 komentar
Puisi 8
Teringat pada malam kerinduan.
Kau palingkan wajah ayumu waktu itu.
Ada tanya yang terpendam dalam hati,
“Mengapakah engkau begitu ?”.
Adakah alas an lain kau lakukan itu ?.
Ataukah memang kau tak pernah ikhlas menerima kehadiranku ?.
Diposting oleh Rifki di 21.49 0 komentar
Puisi 7
Malam ini…
Jauh dari apa yang pernah kubayangkan.
Kau aku duduk walau tak begitu dekat.
“Ini kenyataan ataukah hanya mimpi ?”,tanya hatiku.
“Coba kau cubit aku agar aku tersadar!”, pinta hatiku pada tangan.
Aww…sakit sekali cubitanmu.
Apa???
“Jadi ternyata ini memang bukan mimpi ?”
Kau tahu ?....
Ini kali pertamanya aku dekat berada disampingmu.
“Seandainya dulu kita saling mengenal seperti ini ?”,sesalku dalam hati.
Untuk itu…
Bagiku…malam pertemuan ini
kan menjadi malam kerinduan
yang kan terus hidup
untuk selamanya…..
-- Trim”s kau mau menemuiku malam ini.--
Diposting oleh Rifki di 21.48 0 komentar
Puisi 6
Wahai sang Bidadari…
Tiap bait puisiku ini adalah rasaku.
Jika Kau ingin nikmatinya,
masuklah Kau ke kamarmu.
Hayati dan rasakanlah dengan hatimu.
Niscaya kan Kau temukan
bahwaku merindukanmu ….
Slalu.
Diposting oleh Rifki di 21.39 0 komentar
Puisi 5
Inginku menyapa sang Bidadari.
Yang kini tengah mengeja kata.
Sedang apakah gerangan dirimu kini ???
Diposting oleh Rifki di 21.38 0 komentar
Puisi 4
Saat senja tiba…,
Cintapun datang dengan anai-anai rindunya.
Membawa benih keabadian,
disambut dengan hati bidadari.
Merasuki jiwa setiap insan.
Manusia ada karena Cinta.
Tapi mengapa…
Mengapa manusia masih harus merasa tersiksa ???....
Diposting oleh Rifki di 21.37 0 komentar
Puisi 3
Awali hari-harimu dengan sebuah senyuman.
Sebab senyummu dunia tampak indah,
burung-burung kembali berkicau,
dan manusia memetik cintanya.
Bagi mereka…,
senyummu laksana senyuman manis sang Bidadari.
Diposting oleh Rifki di 21.36 0 komentar
Puisi 2
Malam semakin hening dan larut dalam kesunyian.
Sekarang, baringkanlah tubuhmu dalam kepasrahan.
Selimuti dengan do’a.
Lalu pejamkanlah matamu.
Maka …,
Kan Kau temukan ketenangan di tidurmu.
Dariku, selamat tidur….Cinta.
Semoga engkau mimpi indah.
Diposting oleh Rifki di 21.35 0 komentar
Puisi 1
Kesunyian malam terus mengusik kesendirianku.
Mengajakku terbang ke cakrawala kerinduan tanpa batas.
Menjelmakan sosokmu dalam setiap kehidupan.
Aku sungguh tak kuasa,
Hingga inginku rasakan satu nafas
Tanpa kehadiranmu…
Cinta.
Diposting oleh Rifki di 12.40 0 komentar

